Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 13 Juli 2011

Laporan Dialog Interaktif


Nama acara               : Kick Andy
Yang menayangkan : Metro TV
Pembawa acara         : Andy F. Noya
Narasumber               :
-         Karina de Vega (pemilik Panti Asuhan Eklesia)
-         Fredollin Djoebere (finalis Idola Cilik II, penghuni Panti Asuhan Eklesia)
-         Martin (penghuni Panti Asuhan Eklesia)
-         Maria Fransiska Bira (penghuni Panti Asuhan Eklesia)
-         M. Agus Gofurur Rochim (pemimpin Pondok Pesantren Madinnatunajah)
-         Ardian Malawat (murid di Madinnatunajah)
-         Yusuf (murid di Madinnatunajah)
-         Agustina / Stien (pendiri Panti Asuhan Pniel)
-         Emma Rachel (penghuni Panti Asuhan Pniel)
-         Jelvan (penghuni Panti Asuhan Pniel)
-         Arba (pengelola Panti Asuhan Al-Habibah)
-         Ichsan Malik (aktivis perdamaian)
-         Fitri Fausiah (psikolog lulusan UI)
Waktu penayangan  :Jumat,  24 Juli 2009  Pukul 21.30 – 23.00
Topik                          : Anak – anak Korban Konflik di Ambon
Isi dialog                    :
Fredollin Djoebere, atau biasanya dipanggil Olin, menceritakan pengalaman hidupnya saat terjadi konflik besar di Ambon. Saat itu Olin masih kecil ketika konflik terjadi. Ia terpaksa kabur ke hutan dan tinggal di sana selama 2 bulan, tetapi akhirnya dipindahkan ke barak pengungsian. Perjuangan Olin tidak berhenti sampai di situ saja. Ia mengaku sering bernyanyi saat hujan deras di malam hari untuk mengabaikan rasa lapar. Ia berbuat seperti itu karena bila ia bernyanyi lantang untuk mengalahkan suara hujan, ia akan kelelahan dan tertidur, sehingga rasa lapar terlupakan. Akhirnya Olin dan teman – temannya ditemukan oleh Ibu Karina de Vega, yang memang membangun panti asuhan untuk melindungi dan merawat anak-anak korban konflik di Ambon. Olin telah berjanji untuk tidak pernah menyerah dalam menggapai mimpinya dan ia pun meraih kesuksesan. Dengan usaha dan kemauan yang kuat, Olin telah berhasil mendapatkan peringkat 10 di acara Idola Cilik II, mengalahkan lebih dari 12.000 anak lainnya.
Selain Olin, Martin, yang juga merupakan anak asuh Ibu Karina, memiliki kenangan yang sangat buruk dalam peristiwa konflik di Ambon. Ia menyaksikan ibunya ditembak di depan matanya sendiri. Awalnya ia sempat merasakan dendam yang sangat mendalam, tetapi dengan bimbingan Ibu Karina ia percaya bahwa ia harus mengampuni orang lain. Martin mengatakan bahwa ia akan belajar keras agar menjadi orang sukses, lalu ia akan kembali ke Ambon untuk membangun tempat kelahirannya itu.
Ibu Karina juga ikut menceritakan pengalamannya bersama anak-anak asuhnya. Pada saat awal ia mulai merawat anak – anak korban konflik tersebut, ia menyadari banyak di antara mereka yang terluka secara fisik. Ada yang telinganya menjadi tuli dan banyak anak yang terkena serpihan bom. Ia menyatakan bahwa anak – anak yang terkena serpihan bom itu awalnya baik – baik saja, tetapi lama – kelamaan mulai mengeluh bahwa beberapa bagian tubuh mereka sakit. Untungnya ia segera membawa mereka ke dokter dan mereka semua bisa disembuhkan. Sampai sekarang ia masih merawat dan mendidik mereka agar kelak mereka dapat menjadi orang yang baik. Ia berpesan bahwa untuk berbuat baik kita tidak perlu menjadi orang kaya, yang penting kita tulus dan ihklas dalam membantu orang lain.
Menurut Bapak Ichsan Malik yang merupakan seorang aktivis perdamaian, pemicu konflik di Ambon saat itu adalah Indonesia yang sedang mengalami krisis ekonomi. Keadaan ekonomi sedang tidak stabil dan akhirnya muncul ricuh di mana – mana. Ia mengatakan bahwa untuk mencegah hal semacam itu terulang lagi, masyarakat harus belajar untuk menghargai perbedaan dan meningkatkan integrasi bersama.
Lalu ada juga cerita lain dari Ibu Agustina (biasanya dipanggil Ibu Stien). Pertama kali ia mendirikan Panti Asuhan Pniel dengan tujuan menampung anak – anak korban konflik di Ambon. Namun begitu panti asuhan mulai berjalan, ia sempat merasa putus asa dan hampir menyerah karena anak – anak itu begitu sulit untuk diatur dan tidak berdisiplin. Padahal ia sudah berpengalaman dalam bidang tersebut karena ia juga memiliki panti jompo. Tetapi akhirnya seiring dengan berjalannya waktu anak – anak itu sudah bersikap lebih baik. Mereka mengisi waktu luang mereka dengan bernyanyi dan bermain musik, dan kelompok paduan suara mereka pernah tampil dalam kampanye Megawati-Prabowo belum lama ini. Semua anak yang pernah menjadi korban konflik yang hadir di situ mendambakan perdamaian agar tak ada lagi yang memiliki pengalaman pahit seperti mereka.
Penilaian                    :
a)     Acara                          : Acara Kick Andy selalu memberikan inspirasi bagi orang – orang yang menontonnya. Topiknya juga tidak membosankan dan disajikan dengan data yang jelas, lengkap dengan para narasumber dan pakar di bidang yang sedang dibahas. Saya mendapat banyak pengetahuan dari menonton acara ini, contohnya tentang kasus kematian David, seorang murid di sekolah NTU, Singapur. Juga mengenai derita yang dialami anak – anak yang mengalami korban konflik di Indonesia dan berbagai informasi lainnya.
b)     Pembawa acara         : Menurut saya, Pak Andy itu berkarisma dan pintar bertanya pada para narasumbernya untuk mendapatkan informasi. Penontonnya menjadi mengerti akan masalah yang dibicarakan dan apa yang dialami para narasumber. Ia juga membawakan acara dengan santai seperti berbincang – bincang dengan teman, sehingga para narasumbernya tidak terlalu tegang dan gugup.
c)     Narasumber               : Semua anak yang diundang dalam acara Kick Andy kali ini memiliki cita – cita dan mimpi yang mulia; mereka ingin membangun kembali Ambon dan mereka menginginkan perdamaian. Mereka tak mau melihat orang lain menderita seperti mereka karena mereka tahu bagaimana rasanya kehilangan keluarga dan tempat tinggal. Mereka telah membuktikan bahwa mereka pun mampu meraih prestasi gemilang dan menjadi pribadi yang utuh walau kehidupan tak selalu adil pada mereka.
d)     Isi                                : Secara keseluruhan, acara ini sangat baik untuk disaksikan menurut saya. Kick Andy ditampilkan dengan menarik dan dapat ‘membuka’ mata kita akan apa yang sebenarnya terjadi di sekitar kita. Acaranya juga tidak hanya wawancara terus, kadang diselingi lagu – lagu (seperti penampilan paduan suara dalam acara kali ini) sehingga penontonnya tidak bosan.
Nilai hidup                :
  1. Konflik dan perang hanya akan membawa penderitaan.
  2. Jangan pernah menyerah walau pun keadaan dan lingkungan sangat tidak mendukung, sebab bila kita terus berusaha, kita bisa meraih kesuksesan kelak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar